Kulitinto.com – Analis kebijakan publik Said Didu menyoroti gaya kepemimpinan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang dinilai berbeda dari sebelumnya. Ia menilai Presiden Prabowo Subianto sengaja menampilkan sosok Purbaya sebagai contoh bagi jajaran Kabinet Merah Putih untuk berani mengambil langkah tegas dalam mengungkap berbagai persoalan di pemerintahan.
Pandangan tersebut disampaikan Said dalam program Rakyat Bersuara bertajuk “Purbaya Akan Reset Indonesia?” yang tayang di iNews pada Selasa (28/10/2025) malam. Menurutnya, perubahan sikap Purbaya yang kini dianggap memiliki gaya “koboi” mencerminkan strategi politik dan gaya kepemimpinan Presiden Prabowo yang ingin menunjukkan arah baru pemerintahan.
Said menjelaskan bahwa ia sudah mengenal Purbaya sejak 2008, saat mantan akademisi itu menjabat sebagai Direktur Utama Danareksa. Ia menyebut Purbaya selama ini dikenal sebagai pribadi tenang dan berorientasi ilmiah. Namun, kini gaya komunikasinya terlihat lebih tegas dan konfrontatif, sesuatu yang menurut Said cukup mengejutkan bagi kalangan birokrat dan publik.
“Kalau dulu Purbaya itu tipikal pemimpin yang kalem dan berhitung. Tapi sekarang, gaya bicaranya sangat lugas, bahkan bisa dibilang seperti seorang fighter,” ujar Said dalam acara tersebut. Ia menduga transformasi tersebut tidak lepas dari arahan langsung Presiden Prabowo yang ingin menanamkan semangat keberanian di kalangan menteri.
Lebih lanjut, Said menilai gaya baru Purbaya ini bukan sekadar perubahan pribadi, melainkan bagian dari pola kepemimpinan yang ingin dibentuk oleh Presiden. Ia berpendapat bahwa Prabowo hendak menjadikan Purbaya sebagai simbol keberanian untuk membuka “kotak pandora” di dalam sistem pemerintahan, yakni mengungkap dan membenahi persoalan-persoalan lama yang selama ini tertutup.
Menurut Said, langkah tersebut menandakan adanya niat pemerintah untuk menata ulang tata kelola lembaga dan kementerian agar lebih transparan. Ia menyebut bahwa jika setiap kementerian memiliki sosok seperti Purbaya, maka proses reformasi birokrasi bisa berjalan lebih cepat dan efektif. “Saya kira Indonesia butuh setidaknya sepuluh sosok seperti Purbaya untuk membuka kotak pandora di tiap kementerian,” ucapnya.
Salah satu kementerian yang disebut membutuhkan figur berani seperti Purbaya adalah Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN). Said menilai sektor pertanahan masih menyimpan banyak persoalan, termasuk praktik mafia tanah yang belum sepenuhnya tertangani. Dengan karakter tegas seperti Purbaya, ia yakin reformasi di sektor tersebut akan lebih cepat terealisasi.
Said menekankan bahwa gaya kepemimpinan “koboi” bukan berarti bertindak tanpa aturan, melainkan menunjukkan keberanian dalam membuat keputusan dan mengambil tanggung jawab publik. Dalam konteks ini, menurutnya, Purbaya sedang menjalankan peran strategis untuk menginspirasi para pejabat lain agar lebih terbuka terhadap kritik dan berani melakukan perubahan nyata.
Di sisi lain, perubahan gaya Purbaya juga menjadi perhatian publik dan kalangan politik. Sejumlah pihak menilai pendekatan yang lebih keras dan terbuka itu bisa menjadi momentum baru dalam pemerintahan Prabowo. Namun, ada pula yang menilai sikap tersebut perlu diimbangi dengan kehati-hatian agar tidak menimbulkan gesekan antarinstansi.
Perdebatan mengenai gaya kepemimpinan Purbaya Yudhi Sadewa menunjukkan dinamika dalam kabinet baru Prabowo Subianto yang berupaya menyeimbangkan antara stabilitas ekonomi dan reformasi birokrasi. Jika langkah ini berlanjut dengan konsisten, bukan tidak mungkin Purbaya akan menjadi wajah baru dari semangat transparansi dan pembenahan struktural di tubuh pemerintahan Indonesia.






